Rabu, 29 Desember 2010

“ Smart Marketing “ Ala Tukang Semir Sepatu

Mulai Ngeblog lagi setelah berbulan-bulan vakum.

Bagi anda yang bekerja di kawasan industri Gaya Motor Sunter Jakarta Utara, ataupun yang kebetulan tinggal di sekitarnya. Pasti sudah tidak asing dengan Masjid Astra, Masjid kebanggaan warga sekitar maupun Para Karyawan grup astra tentunya. Kebetulan saya sering Shalat di Masjid itu, terutama Shalat Ashar atau Magrib.

Bukan kali pertama saya melihat si Mas tukang semir sepatu ini. Setiap saya Shalat di sini pasti melihatnya. Tapi kali ini berbeda, saya begitu terpesona melihat caranya menawarkan jasa semir sepatu pada setiap jama’ah laki2 yang akan Shalat. Setiap ada jama’ah yang datang, terutama yang memakai sandal atau sepatu berbahan kulit atau sintetis yang memungkinkan untuk di semir. Selalu dia menawarkan jasa semirnya “ Pak (atau) Om, sepatunya di semir ? “. Jika jawabannya “iya” pancaran bahagia penuh syukur memancar di wajahnya. Kalaupun jawabannya “tidak”, sama sekali ia tidak memperlihatkan raut muka yang kecewa atau sedih.

Hebatnya di area Masjid ini bukan hanya dia “Si Tukang Semir”, ada satu orang lagi yang berprofesi sama. Bedanya dengan yang satu ini, dia tidak “ngejar”. Jadi kalau ada jamaah yang datang, ia tidak menawarkan jasa semir sepatu. Hanya diam duduk manis saja menunggu orang yang butuh jasanya. Saya amati keduanya, bisa saya pastikan yang mendapat penghasilan paling besar adalah si Tukang Semir Yang Pertama. Memang rasanya di jaman sekarang ini, kurang tepat jika kita sebagai pelaku bisnis atau usaha hanya mengandalkan Marketing “ Tunggu Bola”. Harus lebih Proaktif dalam menjemput calon konsumen kita, tetapi juga dengan cara-cara yang tidak memaksa. Jangan sampai over seperti agen-agen MLM yang memaksa habis-habisan agar kita menjadi anggotanya atau membeli produknya.

Bravo Smart Marketing.

Rabu, 21 Juli 2010

Tukang Kebun Dan Penjaring Kupu-kupu

Ada 2 orang teman, yang satu adalah tukang kebun dan yang satu berprofesi sebagai penjaring kupu-kupu.

Penjaring kupu-kupu berangkat setiap hari ke hutan dengan jaringnya untuk menangkap kupu-kupu. Ia mengejar ke sana ke mari untuk mendapatkan kupu-kupu.

Di akhir hari ia duduk beristirahat dan menghitung kupu-kupu hasil tangkapannya untuk dijual kepada kolektor.

Meskipun melelahkan, ia cukup senang dengan hasilnya itu yang bisa digunakan untuk menyambung hidup sehari-hari.

Sekali-sekali ia mampir ke kebun temannya si tukang kebun. Ia prihatin dengan kehidupan temannya itu. Tak seekor pun kupu-kupu ia peroleh dari pekerjaannya itu.

Tukang kebun ini begitu rajin dan telaten merawat kebunnya. Ia tanami dan rawat setiap jengkal tanah dengan yang penuh dengan aneka tanaman dan bunga.

Ia belum mendapat apa-apa dari hasil usahanya itu. Berbeda dengan temannya penjaring kupu-kupu itu. Ia seorang yang sabar. Ia tetap melakukan pekerjaannya dengan sepenuh hati.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Kebunnya telah berubah menjadi taman bunga yang indah sekali. Satu per satu kupu-kupu hinggap di tanamannya.

Hari demi hari makin banyak kupu-kupu yang berkeliaran di sana. Jumlahnya sampai ribuan.

Tukang kebun senang. Dengan mudah ia bisa menangkapi kupu-kupu. Jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan dengan tangkapan temannya.

Dalam satu hari, hasil tangkapannya jauh lebih banyak dibandingkan dengan hasil tangkapan temannya berbulan-bulan.

Ia sangat senang. Sekarang ia dapat hidup dengan tenang dan sejahtera. Karena ingin punya banyak waktu dengan keluarga, ia pun mempekerjakan asisten untuk menangkap kupu-kupu dan merawat taman. Ia hanya sekali-sekali mengunjungi taman itu.

Ia juga punya rencana lain. Ia ingin membuat banyak taman serupa di berbagai tempat.

PS : Saya dapatkan dari salah satu blog teman. Cerita yang inspiratif, Tukang kebun = Pengusaha/ Bisnis owner dan Penjaring Kupu-kupu = Karyawan.

Ini juga yang saya rasakan sampai hari ini, dimana saya harus bekerja extra untuk membangun bisnis yang sedang saya jalankan. Dari pagi hingga malam, kadang harus mengorbankan hari libur juga. Dahsyatnya hasilnya masih jauh dari yang saya harapkan. Tapi seperti kehidupan Tukang kebun tersebut, saya pun yakin suatu saat dimana bisnis saya sudah berjalan mulus saya akan memiliki income jauh melebihi rekan2 saya yang "nyaman" menjadi karyawan.

Selain itu yang terpenting, memiliki kebebasan waktu. Tidak terikat, tidak harus bergelut dengan kemacetan setiap pagi dan sore hari. Dan banyak kelebihan2 lain, yang tidak cukup saya ungkap di Blog ini.

salam,

Andrianto

Senin, 19 Juli 2010

Tips Sehat ala Nabi

1. Mandi pagi sebelum subuh, sekurang-kurangnya sejam sebelum matahari
terbit. Air sejuk yang meresap kedalam badan dapat mengurangi
penimbunan lemak. Kita boleh saksikan orang yang mandi pagi kebanyakan
badan tak gemuk.

2. Rasulullah menganjurkan minum segelas air dingin (bukan air es)
setiap pagi. Manfaatnya Insya Allah jauh dari penyakit.

3. Ketika sholat subuh disunatkan untuk bertafakur (yaitu sujud
sekurang-kurangnya satu menit setelah membaca doa). Kita akan
terhindar dari sakit kepala atau migrain. Ini terbukti oleh para
ilmuwan yang membuat kajian kenapa dalam sehari kita perlu bersujud.
Ahli-ahli sains telah menemui beberapa milimeter ruang udara dalam
saluran darah di kepala yg tidak dipenuhi darah. Dengan bersujud maka
darah akan mengalir ke ruang tersebut.

4. Nabi juga mengajarkan kita untuk makan dengan tangan (tidak memakai
sendok) dan bila habis hendaklah menjilat jari. Begitu juga ahli sain
telah menemukan bahwa enzyme banyak terkandung di celah jari jari,
yaitu 10 kali ganda terdapat dalam air liur(enzyme sejenis alat
percerna makanan).

Sabda Nabi,

"ilmu itu milik Allah, barang siapa menyebarkan ilmu demi kebaikan
Insya Allah, Allah akan menggandakan 10 kali


salam,

Andrianto

Minggu, 18 Juli 2010

Faktor Kali dalam Bisnis

By Roni Yuzirman



Mungkin anda sering bertanya-tanya, mengapa si A dalam waktu singkat usahanya berkembang begitu pesat? Atau si B dalam waktu singkat punya cabang begitu banyak? Jawabannya adalah karena faktor kali (multiplier effect). Usaha yang lambat biasanya karena sistimnya masih menggunakan faktor penjumlah misalnya 2 + 2 = 4, 4 + 4 = 8, 16 + 16 = 32. Ini juga bisa maju, tapi agak lebih lambat. Tapi bila Anda punya usaha yang memiliki faktor kali akan jadi seperti ini: 2 x 2 = 4, 4 x 4 = 16, 16 x 16 = 256. Jauh lebih besar hasilnya.

Usaha apa contohnya yang memiliki faktor kali? Semua usaha punya faktor kali. Cuma jenisnya berbeda-beda. Misalnya usaha rumah makan, salah satu faktor kalinya adalah lokasi yang ramai. Lihat saja restoran McDonalds di Sarinah Thamrin menjadi 10 besar paling ramai di dunia karena faktor kalinya adalah lokasi yang strategis dan ramai. Usaha eceran faktor kalinya adalah lokasi yang ramai dan banyaknya jumlah cabang. Usaha grosir faktor kalinya adalah pelanggannya yang membeli dalam jumlah banyak dan berulang-ulang.

Hanya itu? Masih banyak lagi. Misalnya publikasi, iklan, promosi, tenaga sales. Berikut ini uraiannya.

Menggunakan Publikasi
Ingat dengan ayam bakar Wong Solo? Restoran ini “meledak” omsetnya gara-gara seorang seorang wartawan menulis berita tentang usaha ayam bakar yang saat itu masih di kaki lima di kota Medan dengan judul “Sarjana Menjual Ayam Bakar”. Jadi tulisan di koran itu telah menjadi faktor kali. Memang pemiliknya Puspo Wardoyo pintar sekali memanfaatkan publikasi seperti mengadakan Poligami Awards, membuat menu Jus Poligami. Contoh lain: jaringan bisnis MQ Corporation milik AA Gym dengan publikasi dari segi spiritual, The Body Shop dengan publikasi dari segi kepedulian lingkungan hidup, Moamar Emka dengan buku Jakarta Undercover, Dewi Lestari dengan buku Supernova.

Menggunakan Iklan atau Promosi
Baru-baru ini saya melihat langsung toko roti baru namanya BreadTalk di Mal Taman Anggrek. Saya saksikan pembelinya rela antri sampai hampir sepuluh meter untuk membeli roti yang katanya lebih enak itu. Kenapa bisa begitu ramai sementara toko roti lain di tempat yang sama tidak seramai itu? Karena faktor kali dari iklan dan promosi di Metro TV dengan menggunakan para artis ternama. Iklan tersebut menggugah rasa ingin tahu penonton untuk mencobanya. Contoh lain: DRTV.

Menggunakan Tenaga Pemasaran/Sales
Anda tahu jaringan toko kredit Columbia? Kebetulan saya sendiri kenal dengan pemiliknya, Bapak Leo Chandra. Katanya, tahun lalu omsetnya mencapai Rp. 1,2 trilyun. Apa kiatnya? Dia tidak menggunakan iklan atau membuka outlet di lokasi yang ramai dan strategis. Tapi dia menggunakan 20.000 tenaga sales di seluruh Indonesia. Toko-toko sepatu di PIK Pulo Gadung juga menerapkan hal serupa, yaitu dengan menggunakan tenaga pemasar lepas (freelance) yang dibekali dengan brosur dan katalog gambar produk. Jadi, para pembeli tinggal memilih melalui katalog tersebut. Contoh lain: perusahaan network marketing/MLM, kartu kredit Citibank, bahkan partai seperti Partai Keadilan Sejahtera juga menggunakan strategi pemasaran langsung (direct selling). Saat dalam Pemilu 1999 dengan 15.000 kader yang mentargetkan 1 orang menggaet 20 orang pemilih, partai ini berhasil mendapat 1.4 juta suara. Saat ini dengan sistim pendekatan yang sama telah terkumpul 400.000 kader. Berapa nanti perolehan suaranya di tahun 2004 bila 1 orang kader menggaet 20 pemilih?

Menggunakan Tokoh atau Model
Baterai ABC menguasai 90% lebih pangsa pasar baterai di Indonesia. Saat saya berkunjung ke pabriknya di Daan Mogot bulan Desember tahun lalu, Ibu Herlili Sumampouw, manajer periklanannya membuka rahasia bahwa salah satu faktor kalinya adalah dengan menggunakan orang-orang cebol dan petinju Evander Holyfield. Mereka menggunakan orang-orang cebol sejak tahun 70-an yang disuruh menari-nari di arena Pekan Raya Jakarta. Hasilnya, omset penjualan baterai ABC naik seperti roket, katanya. Begitu juga saat memperkenalkan Baterai ABC Alkaline, tadinya ABC tidak dikenal sebagai produsen baterai alkaline sebelum menggunakan model iklan petinju kelas berat Evander Holyfield. Seorang model atau tokoh memiliki banyak penggemar, inilah faktor kalinya.

Membuka Cabang Sebanyak Mungkin
Untuk usaha eceran/retail, inilah faktor kalinya. Alfa Mart adalah contohnya. Dalam waktu singkat bisa menyamai jumlah cabang Indomaret yang sudah lebih lama di bisnis ini. Dengan agresif mereka terus membuka cabang dengan cara waralaba yang lebih fleksibel daripada Indomaret. Caranya, bila si calon partner itu hanya punya lahan dan bangunan tanpa modal kerja, Alfamart siap mengisi barang. Faktor kali untuk usaha eceran tidak hanya itu, bisa juga dengan cara menitipkan barang di outlet-outlet.

Menjual Secara Grosir
Untuk usaha grosir, faktor kalinya tidak perlu dengan membuka banyak toko. Tapi dengan mencari banyak pedagang yang membeli dalam jumlah banyak secara berulang-ulang. Ini bisa dilihat di toko-toko di Tanah Abang, Pasar Anyar Bogor atau Cipulir. Rata-rata mereka memiliki pelanggan tetap yang secara rutin berbelanja. Misalnya satu toko memiliki 20 pelanggan yang rata-rata berbelanja Rp. 2 juta per bulan, total per tahun menjadi Rp. 480 juta. Usaha grosir ini akan terus berkembang sesuai dengan perkembangan usaha para pedagang langganan tersebut dan bertambahnya pelanggan baru. Adakah para pelanggan yang memiliki lebih dari satu toko? Tentunya ada, bahkan ada yang memiliki 10 toko. Inilah faktor kalinya.

Menggunakan Internet
Jeff Bezos adalah salah orang terkaya di Amerika saat ini. Dia meraihnya dalam waktu kurang dari 10 tahun. Dia adalah pendiri situs belanja buku di internet Amazon.com yang menjual buku secara online kepada para pelanggan di seluruh dunia. Dalam waktu singkat Amazon telah mengalahkan toko buku terbesar di Amerika yang sudah berdiri puluhan tahun, Barnes and Noble. Saya pribadi juga telah menggunakan media ini sejak September tahun lalu. Hasilnya di luar dugaan. Dalam waktu 3 bulan pengunjung yang datang di website sudah hampir 1.000 orang dengan omset yang lumayan. Bahkan telah berhasil mendapatkan agen/distributor di beberapa daerah di Indonesia. Apa faktor kalinya? Karena saya berkawan dengan Mr. Tung Desem Waringin, seorang pembicara seminar yang telah berbicara di hadapan lebih dari 60.000 orang dan siaran talk show di radio Smart FM yang mempunyai jaringan di 7 kota di Indonesia. Di setiap kesempatan dia selalu menyebutkan alamat situs internet kami. Di samping itu, internet diakses oleh orang di seluruh dunia, tanpa batas wilayah dan waktu. Perkembangan bisnis di internet ini patut kita antisipasi. Peluangnya sangat, sangat, sangat besar.

Apakah faktor kali hanya untuk bisnis saja?
Tidak. Penggunaan faktor kali tidak melulu untuk tujuan bisnis saja. Seorang dosen yang biasanya hanya bisa berbicara di depan mahasiswa bisa menggunakan media lain untuk meraih audiens yang lebih besar. Misalnya dengan menulis buku, mengadakan seminar, membuat kaset/CD, membuat situs internet, siaran di TV atau radio. Contohnya adalah Rhenald Kasali, Roy Sembel (dosen, ahli keuangan). Seorang atlit yang sebelumnya adalah atlit lokal bisa meningkatkan faktor kalinya dengan mengikuti pertandingan dengan skala nasional atau internasional. Seorang da’i seperti Aa Gym paling ahli memanfaatkan faktor kali ini. Dia membuat faktor kali melalui tabloid, radio, televisi, internet, buku, VCD dan lain-lain. Inul Daratista menjadi begitu fenomenal setelah tampil di televisi. Padahal sebelumnya dia hanya bernyanyi dari kampung ke kampung.

Kesimpulan
Dari beberapa contoh di atas, intinya adalah bagaimana dalam meningkatkan usaha kita selalu mencari faktor kali. Sekali lagi FAKTOR KALI. Mudah-mudahan tulisan ini menjadi inspirasi bagi anda. Mohon maaf, bukan saya ingin menggurui, tapi ingin berbagi ilmu dan pengalaman yang tentu saja banyak kekurangannya. Mudah-mudahan tulisan ringan ini ada manfaatnya.

Andrianto

Selasa, 11 Mei 2010

Cara Sederhana Menjadi Kaya ala Tionghoa

23 April 2010
by roniyuzirman

Sejak kecil saya tinggal di Pademangan, lingkungan yang banyak penduduk suku Tionghoa.

Teman-teman kecil saya banyak dari Tionghoa. Bahkan saya diangkat jadi “kepala suku” oleh mereka. Mereka memanggil saya “uda” (kakak), tapi dicampur dengan kata “lu – gue” (nggak nyambung).

Setiap tahun baru China, kulkas di rumah kami dipenuhi dengan kue China yang berwarna coklat berbentuk mangkok dan rasanya sangat manis.

Dari pergaulan saya, maka saya terbiasa mengamati kehidupan saudara kita ini. Mereka adalah para pengusaha yang ulet dan hemat. Prinsip-prinsip “ayam kampung” yang saya ceritakan kemarin, juga mereka lakukan.

Misalnya, ketika punya satu toko, gaya hidup mereka sangat sederhana dan hemat. Si bapak sehari-hari biasa bercelana pendek dan berkaos putih cap Swan. Makan pun dengan lauk sederhana. Hanya nasi dan sayur berkuah. Uang hasil bisnis yang dikonsumsi sangat sedikit, sisanya diputar kembali di toko.

Dari hasil perputaran itu, mereka bisa membuka toko kedua. Meski pun sudah punya 2 toko, gaya hidup mereka tidak berubah. Tetap pakai kaos Swan dan makan nasi dengan sayur. Uang diputar terus dan dengan mudah bisa buka toko ketiga.

Hal demikian mereka praktekkan dengan sabar dan tekun bertahun tahun. Mereka menunda kenikmatan untuk hasil yang besar dikemudian hari. Mereka mempraktekkan prinsip compounding growth yang dahsyat.

Setelah kondisi keuangan cukup stabil, bisnis sudah mantap dan sulit digoyang, anak-anak sudah sekolah di sekolah yang bagus, barulah mereka menikmati hasilnya. Beli rumah yang lebih besar, atau mobil yang mewah.

Prinsipnya begitu sederhana, tapi dijalankan dengan disiplin dan tekun. Salah satu ciri orang berbakat kaya adalah kesanggupannya untuk menunda kenikmatan.