Senin, 22 Juni 2009

Sanggupkah Hati Ini IKHLAS...!


Sabtu 20 juni , seperti hari sabtu2 biasa.Selalu kami isi dengan aneka kegiatan JJB “ Jalan Jalan Bisnis”. Hari itu kami awali untuk pergi ke Mangga Dua Mall untuk datang ke service Modem Internet salah satu provider Telekomunikasi. Lama tidak main ke Mangga Dua Mall, mungkin sudah bertahun-tahun. Ternyata rame juga ya, dalam hati saya bertanya kenapa ya pusat2 belanja di Ibukota Jakarta ini tidak ada yang sepi. Dari Mall2, Pusat2 Grosir….sampai PRJ…..semuanya rame tidak ada yang sepi. Sebenernya berapa sih jumlah penduduk Jakarta, pantesan aja ya Jakarta tiada hari tanpa macet.

Kegundahan selanjutnya, kenapa yang punya Toko2 di sana etnis Tionghoa semua. Emangnya pada kemana sih warga Pribuminya. Maaf untuk anda yang kebetulan etnis Tionghoa yang sedang membaca artikel ini, jujur saya iri , kagum, sekaligus benci sama kalian. Kenapa kalian bisa menguasai roda ekonomi, bisa punya Toko2 di sentra2 bisnis & perbelanjaan. Apasih lebihnya kalian dibanding warga Pribuminya. Seperti sewaktu saya jalan2 ke Pasar Baru, di situ jelas sekali terlihat keanehan2. Yang punya Toko Enci2, Engkoh2 dan para etnis India. Nah…..anehnya yang kerja justru orang Pribuminya…yang jaga Parkiran orang Pribuminya…..yang jadi pengemis orang Pribuminya. Istilah kasarnya jadi pembantu di rumah sendiri. Untuk anda yang menganggap kondisi ini adalah wajar….maaf berarti kita beda cara pandang….beda persepsi. Kenapa klo orang asing bekerja di Indonesia pasti dia akan menempati lefel tinggi, minimal manager atau Direktur. Dengan fasilitas serba kelas satu. Tapi klo orang Indonesia bekerja di luar negri……anehnya……siksaan & penderitaan lah yang di dapat. Aneh ya……semoga Allah menganugerahkan pemimpin yang amanah yang dapat merubah nasib bangsa ini…Amin.

Sepulangnya dari sana, kita JJB lagi ke daerah ASEMKA. Untuk yang belum tau ASEMKA….main2 deh…..rugi klo ga tau. Disini pusatnya kulakan barang2 seperti alat tulis, pernak-pernik, kado, kerajinan tangan, dll. Disana kita hanya membeli satu buah jam dinding yang akan kita gunakan di Salon kita nantinya.

Dari sana kita menuju lokasi Salon kita, sambil menunggu kurir yang akan mengirim Product salon. Kita membicarakan tentang Planing Salon ini nantinya. Sudah kita tunggu sekian lama, kurir yang kita tunggu tidak datang juga, Akhirnya kita pun terpaksa menelpon sales Product Salon tersebut. Tapi berhubung tidak ada pulsa, saya pun membeli pulsa electronic di kios sebelah. Karena no Hp yang akan di isi tidak hapal, saya membawa Hp Istri ke kios isi pulsa tersebut.

Setelah di layani oleh si empunya kios pulsa, anehnya saya hanya focus pada kembalian yang di berikan. Setelah itu saya kembali ke Salon tanpa merasa ada yang aneh terjadi padahal Hp masih tertinggal di atas etalase kios pulsa tersebut. Tidak lama setelah saya masuk ke dalam Salon kami, istri saya menanyakan Hp nya karena akan di gunakan untuk melihat no Hp temannya. Mendadak saya panik, karena Hp istri ternyata tidak ada . Merogoh kantong celana, cari2 di bawah kursi yang kita duduki tapi tidak ada juga. Pada saat di MissCall pun suara Hp tidak terdengar. Lantas saya menanyakan di kios pulsa yang saya beli tadi, ternyata di sana pun tidak ada. Kata yang melayani saya tadi, setelah saya tidak ada yang beli pulsa di sini. Tapi setelah saya pergi ada seorang pengemis/pemulung Ibu2 menggendong anak. WallahuAlam bisshawab….tanpa bermaksud menuduh saya mengejar pengemis yang di ceritakan tadi dengan motor. Setelah berkeliling dengan radius cukup jauh, yang ga mungkin sepertinya dengan hanya berjalan kaki ditambah menggendong anak bisa melebihi radius yang saya tempuh. Saya tetap tidak menemukan pengemis itu.

Saya kembali ke Salon mendapati raut sedih di wajah Istriku. Maklum Hp itu baru dia beli sekitar 3 bulan. Lagi sayang2 nya. Tapi mau di kata apa, mau tidak mau saya dan Istri harus mengikhlaskan kehilangan itu. Berat memang, biar gimana pun kita hanya manusia biasa. Yang pastinya akan emosi, kecewa, sedih, dll di saat kita kehilangan sesuatu yang kita punya.

Tapi kembali lagi harus kita sadari, sejak lahir ke dunia kita toh tidak punya apa2, tidak membawa apa2. Pada saat meninggal nanti, kita pun tidak membawa apa2 hanya selembar kain kafan saja. Saya pun harus menyadari, saya harus bisa ikhlas menerima cobaan itu. Toh hanya Hp, klo di perluas lagi. Pada saat musibah Situ Gintung terjadi, berapa orang yang telah kehilangan harta bendanya. Kehilangan anggota keluarganya. Tapi mereka tetap tegar, tetap ikhlas menerima musibah yang menimpa mereka. Karena gmana pun roda kehidupan terus berputar, episode2 kehidupan tetap berlanjut, tetap perlu kita mainkan. Klo kita terus menerus bersedih, apa jadinya akan nasib & masadepan kita. Dan yang terpenting, yakin lah setiap musibah pasti ada kandungan Hikmah nya. Setelah hujan deras, niscaya ada pelangi…..!

Semoga ada hikmah nya.

Wassalam

Andrianto

Andri.13d@gmail.com

2 komentar:

  1. asww sekali ini terpaksa saya kasih komentar mas,(actually , i always follow yr blog ) ikut prihatin ya..saya mengalami kejadian yang sama disana , hanya 'nyaris' dan Allah masih sayang dng saya , ..betul mas adri semoga ini jadi suatu pengalaman yang penuh hikmah.. untuk anda istri anda saya juga .. tks untuk postingan yang bisa mengguggah ' mata hati' ini. sukses ya

    BalasHapus
  2. walaikum salam wrwb...thanks ya Mba Ida....yah mudah2an ini semua bisa jadi pelajaran untuk kita semua...amin

    salam,

    andri

    BalasHapus