Selasa, 11 Mei 2010

Cara Sederhana Menjadi Kaya ala Tionghoa

23 April 2010
by roniyuzirman

Sejak kecil saya tinggal di Pademangan, lingkungan yang banyak penduduk suku Tionghoa.

Teman-teman kecil saya banyak dari Tionghoa. Bahkan saya diangkat jadi “kepala suku” oleh mereka. Mereka memanggil saya “uda” (kakak), tapi dicampur dengan kata “lu – gue” (nggak nyambung).

Setiap tahun baru China, kulkas di rumah kami dipenuhi dengan kue China yang berwarna coklat berbentuk mangkok dan rasanya sangat manis.

Dari pergaulan saya, maka saya terbiasa mengamati kehidupan saudara kita ini. Mereka adalah para pengusaha yang ulet dan hemat. Prinsip-prinsip “ayam kampung” yang saya ceritakan kemarin, juga mereka lakukan.

Misalnya, ketika punya satu toko, gaya hidup mereka sangat sederhana dan hemat. Si bapak sehari-hari biasa bercelana pendek dan berkaos putih cap Swan. Makan pun dengan lauk sederhana. Hanya nasi dan sayur berkuah. Uang hasil bisnis yang dikonsumsi sangat sedikit, sisanya diputar kembali di toko.

Dari hasil perputaran itu, mereka bisa membuka toko kedua. Meski pun sudah punya 2 toko, gaya hidup mereka tidak berubah. Tetap pakai kaos Swan dan makan nasi dengan sayur. Uang diputar terus dan dengan mudah bisa buka toko ketiga.

Hal demikian mereka praktekkan dengan sabar dan tekun bertahun tahun. Mereka menunda kenikmatan untuk hasil yang besar dikemudian hari. Mereka mempraktekkan prinsip compounding growth yang dahsyat.

Setelah kondisi keuangan cukup stabil, bisnis sudah mantap dan sulit digoyang, anak-anak sudah sekolah di sekolah yang bagus, barulah mereka menikmati hasilnya. Beli rumah yang lebih besar, atau mobil yang mewah.

Prinsipnya begitu sederhana, tapi dijalankan dengan disiplin dan tekun. Salah satu ciri orang berbakat kaya adalah kesanggupannya untuk menunda kenikmatan.

0 komentar:

Poskan Komentar